Kamis, 23 Februari 2012

BAB I hubungan teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat, tuntutan masyarakat yang  semakin mengerti terhadap pelayanan kesehatan semakin meningkat pula. Kompleksnya masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat menuntut dikembangkannya pendekatan dan pelaksanaan asuhan keperawatan yang paripurna (Nursalam, 2009).
Rumah sakit merupakan salah satu mata rantai dalam pemberian pelayanan kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan lingkungannya untuk mencapai suatu keseimbangan yang dinamis mempunyai fungsi utama melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan (Situmorang, 2005).
Mutu pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh pelayanan keperawatan atau asuhan keperawatan ( Depkes RI, 1992).  Perawat sebagai pemberi jasa keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit, sebab perawat berada dalam 24 jam memberikan asuhan keperawatan. Tanggung jawab yang demikian berat belum ditunjang dengan sumber daya manusia yang memadai, sehingga kinerja perawat sering menjadi sorotan baik oleh profesi lain maupun  pasien atau keluarganya (Nursalam, 2008).
Kinerja diartikan sebagai keberhasilan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan (Armstrong dan Baron, 1998). Kinerja perawat diharapkan dapat memberikan konstribusi prestasi secara nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang berdampak terhadap pelayanan asuhan keperawatan di rumah sakit (Wibowo, 2010).
Dalam upaya menciptakan pelayanan keperawatan yang baik telah disahkan oleh menteri kesehatan dalam surat keputusan No.129/Menkes/SK/II/2008, tentang standar asuhan keperawatan kemudian diperkuat dengan SK Dirjen pelayanan medik Depkes RI No.YM.000.03.2.6.7367 tahun 2008, PPNI mengeluarkan surat keputusan No.03/DPP/SK/I/1996 tentang standar profesi keperawatan, maka seluruh tenaga keperawatan di rumah sakit dalam memberikan asuhan keperawatan harus berpedoman pada  standar asuhan keperawatan (Nursalam, 2009). Salah satu tugas kepemimpinan yang paling penting dari seorang pemimpin organisasi adalah memaksimalkan motivasi kerja bawahan dalam upaya meningkatkan produktivitas (Gillies, dikutip dalam Nursalam, 2009).
Penurunan kinerja perawat akan mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan. Studi oleh Direktorat Keperawatan dan Keteknisian Medik Depkes RI bekerjasama dengan WHO tahun 2000 di 4 provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur, menemukan 47,4 persen perawat belum memiliki uraian tugas secara tertulis, 70,9 persen perawat tidak pernah mengikuti pelatihan dalam 3 tahun terakhir, 39,8 persen perawat masih melaksanakan tugas non keperawatan, serta belum dikembangkan system monitoring dan evaluasi kinerja perawat (Hasanbasri, 2007). Pada tahun 2005 ditemukan kinerja perawat baik 50 %, sedang 34,37 %, dan kurang 15,63 %. Kinerja keperawatan di rumah sakit dikatakan baik bila kinerja perawat > 75 % (Maryadi, 2006). Hasil survei di RSU Swadana Tarutung, terhadap 152 pasien rawat inap berkaitan dengan kinerja perawat pelaksana menunjukkan bahwa sebanyak 65% menyatakan perawat kurang perhatian, 53% mengatakan perawat sering tidak di ruangan, 42% menyatakan perawat bekerja tidak disiplin (Siregar, 2008).
Fungsi manajerial yang menangani pelayanan keperawatan di ruang rawat dikordinatori oleh kepala ruang rawat. Kepala ruangan sebagai manajer harus dapat menjamin pelayanan yang diberikan oleh perawat pelaksana dalam memberikan pelayanan yang aman dan mementingkan kenyamanan pasien (Rachman, 2006). Kemampuan manajerial yang harus dimiliki oleh kepala ruangan antara lain perencanaan, (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan dan pelaksanaan (aktuasi), pengawasan serta pengendalian (controlling), dan evaluasi. Dari beberapa fungsi manajerial kepala ruangan tersebut terlihat bahwa salah satu yang harus dijalankan oleh kepala ruangan adalah bagaimana melakukan supervisi untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan keperawatan (Arwani, 2005).
Fungsi manajerial yang menangani pelayanan keperawatan di ruang rawat dikordinatori oleh kepala ruang rawat. Kepala ruangan sebagai manajer harus dapat menjamin pelayanan yang diberikan oleh perawat pelaksana dalam memberikan pelayanan yang aman dan mementingkan kenyamanan pasien (Rachman, 2006). Menurut Thora Korn (1987) dalam Suarly dan Bahtiar (2009) menyatakan bahwa supervisi adalah merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi, secara terus menerus pada setiap perawat dengan sabar adil serta bijaksana. Dengan demikian diharapkan setiap perawat dapat memberi asuhan keperawatan dengan baik, terampil, aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dari perawat yang bersangkutan.
Tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatkan kinerja bawahan, bukan untuk mencari kesalahan. Peningkatan kinerja ini dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap pekerjaan bawahan, untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan untuk mengatasinya (Suarli dan Bahtiar, 2009). Supervisi yang tepat dapat meningkatkan kepuasan kerja bagi perawat. Kepuasan kerja bagi perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya yang berdampak pada, disiplin dan prestasi kerja (Rahcman, 2006). Kepuasan kerja perawat pelaksana dapat dipengaruhi oleh pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala ruangan. Hubungan kepuasan kerja perawat pelaksana dengan kompetensi supervisi kepala ruangan dapat dipengaruhi oleh karakteristik perawat pelaksana tersebut (Hasniaty A.G, 2002).
Berdasarkan studi pendahuluan yang pernah dilakukan pada bulan Juni 2009 terhadap 10 orang perawat pelaksana Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone didapatkan data bahwa supervisi dilakukan oleh pengawas, kepala ruangan maupun kepala keperawatan. Proses supervisi dilakukan setiap hari pada saat pertukaran dinas. Pelaksanaan supervisi dilakukan sebagai pengawasan untuk melihat apakah tindakan keperawatan itu dilakukan atau tidak. Kepala ruangan melakukan supervisi di setiap ruangan, dimana dalam satu ruangan terdiri dari ………….perawat pelaksana. Dengan adanya pelaksanaan supervisi yang maksimal, peneliti menyimpulkan bahwa kinerja perawat pelaksana akan semakin meningkat.
Hal inilah yang mendasari sehingga penulis tertarik untuk meneliti hubungan teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone.
B.     Rumusan Masalah
Mutu pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh pelayanan keperawatan atau asuhan keperawatan ( Depkes RI, 1992).  Perawat sebagai pemberi jasa keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit, sebab perawat berada dalam 24 jam memberikan asuhan keperawatan. harus berpedoman pada  standar asuhan keperawatan (Nursalam, 2009).
Fungsi manajerial yang menangani pelayanan keperawatan di ruang rawat dikordinatori oleh kepala ruang rawat. Kepala ruangan sebagai manajer harus dapat menjamin pelayanan yang diberikan oleh perawat pelaksana dalam memberikan pelayanan yang aman dan mementingkan kenyamanan pasien (Rachman, 2006). Fungsi manajerial yang menangani pelayanan keperawatan di ruang rawat dikordinatori oleh kepala ruang rawat. Kepala ruangan sebagai manajer harus dapat menjamin pelayanan yang diberikan oleh perawat pelaksana dalam memberikan pelayanan yang aman dan mementingkan kenyamanan pasien (Rachman, 2006).
Dari permasalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana hubungan pelaksanaan supervisi kepala ruangan Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone?
2.      Bagaimana hubungan kondisi kinerja perawat pelaksana Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone?
3.      Bagaimana hubungan pengaruh pelaksanaan supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat pelaksana Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
 Mengidentifikasi sejauh mana pengaruh pelaksanaan supervisi terhadap kinerja Perawat pelaksana Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone.
2.      Tujuan khusus
a.       Mengidentifikasi bagaimana hubungan pelaksanaan supervisi kepala ruangan yang dinilai dari tehnik supervisi, prinsip supervisi, kegiatan rutin supervisi dan model supervisi Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone.
b.      Mengidentifikasi bagaimana hubungan kinerja perawat pelaksana yang dinilai berdasarkan standar asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi di Di Rumah Sakit Umum Daerah Tendriwaru Kabupaten Bone.
a.        
D.    Manfaat Penulisan
Dengan dilakukan penelitian tentang pengaruh hubungan teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit maka diharapkan hasil penelitian yang diperoleh akan bermanfaat :
1.            Manfaat Ilmiah
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan bahan bacaan dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan keperawatan khususnya tentang pengaruh hubungan teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat.
2.            Instansi rumah sakit
Untuk memberikan masukan dan pengembangan pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit dalam peningkatan kualitas pelayanan, khususnya dalam pengaruh hubungan teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat.
3.            Istitusi pendidikan
Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan tentang penanganan serta program pendidikan dan pengembangan.


4.            Perawat
Sebagai informasi dan masukan dalam peningkatan wawasan tentang mobilisasi sehingga dapat memberikan tindakan keperawatan secara propesional dan konprehensif.
5.            Peneliti.
Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas pengetahuan penulis mengenai pengetahuan perawat tentang teknik supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar